Saya
sering diminta untuk menguraikan dampak dari
pendidikan terhadap pembangunan ekonomi sebuah negara. Sebagai
tanggapan, saya menawarkan intisari dari makalah yang
ditulis oleh Walter W. McMahon, ia adalah Profesor Ekonomi
dan Profesor Emeritus Pendidikan di University of
Illinois di Urbana-Champaign. Profesor Walter kerap memberikan
konsultasi formal dan informal dengan Foundation kami. Karya-karyanya
dianggap penting oleh kami, karena sejalan dengan tujuan kami untuk selalu mengkaji
kembali, dalam skala internasional, program pengembangan yang memastikan
masyarakat prasejahtera mampu menentukan perekonomian mereka. Hal ini penting
bagi negara berkembang untuk berpartisipasi secara global. Memperluas akses
pendidikan akan berdampak terjadinya pergerakan lapisan sosial, terutama bagi
masyarakat ekonomi prasejahtera bergerak ke atas. Hal ini akan memberikan
dampak pada kesetabilan ekonomi, kesehatan, dan kesejahteraan negara secara
keseluruhan.
————- OOO
————-
Di
Indonesia, investasi pendidikan tinggi publik diperlukan untuk
meningkatkan kualitas dan akses serta ekuitas. Terdapat
450.000 pelamar pendidikan tinggi tetapi hanya ada
75.000 tempat. Di samping itu, tiga universitas publik
terbaik di Indonesia hanya mampu mencapai peringkat 201 sampai
dengan 451 di dunia pada tahun 2010. Hal ini disebabkan
karena tingkat publikasi artikel-artikel jurnal yang rendah.
Sebanyak 78 pendidikan tinggi lainnya dan 2.154 lembaga
pendidikan tinggi swasta berperingkat lebih rendah lagi
Meningkatkan kualitas perguruan tinggi akan
menciptakan orang-orang terampil yang mampu bertukar
pikiran, mengadapatasi ide-ide asing, menciptakan ide-ide
baru, meningkatkan produktifitas ekonomi, dan memberikan
kontribusi terhadap pembangunan yang lebih luas karena ide-ide
ini berkontribusi untuk kesehatan, lingkungan, pemerintahan yang
lebih baik, dan meningkatkan kesejahteraan manusia.
Investasi untuk perguruan tinggi
juga menghasilkan kontribusi untuk pembangunan dengan banyak
cara. Bukti ini berasal dari penelitian di banyak negara
didasarkan pada sampel besar individu serta dari
data nasional. Banyak yang didokumentasikan dalam
karya McMahon berjudul, Higher Learning, Greater Good(2009) dan Education and Development (2002).
1. Manfaat pribadi non-pasar. Pendidikan tinggi adalah meningkatkan dampak
pembangunan bagi banyak individu. Manfaat-manfaat ini dapat dilihat pada:
·
Kesehatan yang Lebih Baik. Indonesia memiliki kecenderungan perkembangan yang juga
ditemukan di negara-negara lain. Lulusan perguruan tinggi di Indonesia
dapat menikmati kesehatan 8,4% lebih baik daripada lulusan
sekolah menengah secara umum. Hal tersebut berlaku sama untuk
kesehatan bagi lulusan sekolah menengah dibanding lulusan sekolah dasar. Angka
tersebut diambil dari 13 penelitian yang mewawancarai banyak
individu di beberapa negara. Semakin banyak masyarakat yang
menyelesaikan pendidikannya dalam sebuah populasi, maka status kesehatan
dalam populasi tersebut akan melebihi apa yang bisa
didapatkan dari peningkatan pendapatan perkapita.
·
Kesehatan anak dan pasangan yang lebih baik. Studi lain juga menunjukkan bahwa mereka yang
memperoleh pendidikan tinggi mampu meningkatkan kesehatan tidak hanya
anak-anaknya (8,7%), tetapi juga kesehatan pasangannya (8,1%).
·
Umur yang lebih panjang. Mereka dengan gelar sarjana rata-rata hidup sekitar 4,5 tahun
lebih lama dibandingkan dengan mereka yang berpendidikan kurang dari itu. Hal
ini disebabkan mampunya mereka mengendalikan pendapatan perkapita yang
berkaitan dengan faktor-faktor lainnya. Sekali lagi, ini bukan hanya terjadi
pada mereka yang mampu lulus dari pendidikan tinggi saja, tapi lulusan
non-sarjana (pendidikan sekunder) juga mampu hidup sekitar 4,5 tahun lebih lama
dibanding mereka yang hanya menyelesaikan pendidikan dasar. Sebanyak 66% dari
semua laki-laki di Indonesia saat ini dapat hidup sampai usia 65, jadi, ini
adalah dampak positif yang penting tidak hanya untuk masa bekerja bagi kelas
pekerja, tetapi juga untuk masa pensiun mereka.
·
Pendidikan Anak dan Pengembangan Kognitif. Rata-rata dari 9 studi menunjukkan bahwa
anak-anak lulusan perguruan tinggi mendapat nilai tes + 0,796 lebih tinggi pada
membaca, matematika, dan tes ilmu pengetahuan dibandingkan mereka yang
berpendidikan di bawahnya. Hal ini muncul dengan hal baik lainnya, seperti
pendapatan per kapita yang terkendali dan faktor lainnya. Beberapa studi lain
juga menunjukkan bahwa anak-anak ini akan bersekolah lebih lama.
·
Semakin sedikit anak, semakin lambat laju pertumbuhan
penduduknya. Pendidikan untuk
perempuan telah membantu memperlambat pertumbuhan penduduk Indonesia dan
membuat kinerja klinik pengendalian kelahiran lebih efektif. Para perempuan
yang menyelesaikan pendidikan sekunder akan memiliki rata-rata 0,81 anak lebih
sedikit dari mereka yang meninggalkan sekolah setelah dasar, dan penelitian
menunjukkan bahwa efek ini terus berlanjut sampai ke perguruan tinggi.
Misalnya, tingkat kesuburan di Indonesia adalah 3,1 kelahiran per-wanita,
sementara Pakistan adalah 5,8 (Bank Dunia). Untuk keluarga ini berarti lebih
sedikit anak tetapi mampu menyediakan pendidikan dan kesehatan yang lebih baik
untuk anak-anaknya. Bagi bangsa, pertumbuhan penduduk yang lebih lambat berarti
lebih banyak pendapatan pendapatan perkapita. Hal ini dapat dilihat di
Negara-negara seperti Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong, dan Singapura.
·
Manajemen rumah tangga yang lebih Efisien. Anggaran dana untuk keperluan rumah tangga
lebih efisien, dan hasil yang dapat disimpan dari penghasilan secara persentasi
lebih besar. Hal ini dapat terjadi pada setiap tingkatan pendapatan per kapita
dengan meningkatnya jika terdapat kesadaran untuk pendidikan. Selanjutnya,
dengan meningkatnya pendapatan keluarga, keluarga otomatis berinvestasi untuk
keperluan anak-anak agar dapat belajar di rumah, yang merupakan sumber tabungan
tambahan yang penting untuk pembangunan sebuah bangsa. Ini adalah bentuk
tabungan dan investasi swasta—atau dengan kata lain ‘keluarga’—yang tidak
mungkin akan terjadi tanpa dukungan pemerintah.
·
Kebahagiaan.
Penelitian tentang sumber kebahagiaan oleh psikolog dengan pengukuran pada
gelombang otak mengungkapkan bahwa dengan peningkatan pendidikan dan pendapatan
seseorang berbanding lurus dengan peningkatan kebahagiaan. Hal ini dapat
terjadi sampai pendapatan per kapita mencapai sekitar 170 juta rupiah per tahun
dan kemudian berhenti. Data survei untuk Indonesia menunjukkan bahwa
kebahagiaan relatif lebih tinggi, jauh di atas kebanyakan negara berkembang.
Tapi dengan meningkatnya akses ke pendidikan, ukuran kebahagiaan cenderung akan
meningkat lebih tinggi pula.
2. Manfaat sosial dari pendidikan tinggi adalah manfaat untuk
orang lain dan generasi mendatang. Mereka termasuk:
·
Demokratisasi dan Meningkatkan Lembaga-Lembaga Sipil. Dari banyak survei, orang yang kuliah
melakukan pemilihan suara lebih teratur, menjadi pemilih yang memiliki
informasi lebih baik, dan mengkontribusikan waktu dan uang mereka lebih banyak
ke organisasi-organisasi amal dan kemasyarakatan dibandingkan dengan mereka
yang berpendidikan kurang pada tingkat pendapatan yang sama. Data nasional
menunjukkan bahwa demokrasi muncul saat pendapatan per kapita naik dan
mayoritas dari generasi berikutnya memiliki pendidikan lebih tinggi. Pendidikan
yang lebih tinggi berkontribusi juga, karena demokrasi yang berkelanjutan
membutuhkan banyak organisasi sipil dan amal yang efektif. Hal ini hanya dapat
didukung oleh warga negara yang berpendidikan.
·
Hak Asasi Manusia terutama hak-hak sipil yang dilindungi oleh sistem pengadilan yang
berjalan, Habeas Corpus, kebebasan pers, pengadilan oleh juri, dan kebebasan
berserikat seperti yang didefinisikan oleh para ilmuwan politik. Hak-hak ini
tergantung pada demokrasi, dukungan untuk kebebasan pers, dan seberapa banyak
warga negara yang berpendidikan melibatkan diri pada hukum dan dengan
lembaga-lembaga sipil.
·
Stabilitas Politik. Data internasional menunjukkan dengan jelas bahwa stabilitas
politik meningkat dengan adanya demokratisasi. Tetapi di samping itu, lembaga
pendidikan pasca-SMA atau lembaga pendidikan sekunder juga dapat memberikan
pengaruh signifikan, setelah mengendalikan pengeluaran militer dan pendapatan
per kapita. Stabilitas ini pada gilirannya didapat dari rumus pertumbuhan
terhadap kontribusi pertumbuhan per kapita.
·
Pengurangan Kemiskinan. Pendidikan yang lebih tinggi dapat menyebabkan peningkatan
ketidaksetaraan kecuali jika perhitungan indeks didasarkan pada nilai
keseluruhan pendidikan, bukan hanya nilai hasil akhir saja. Kemisikinan pun
dapat ditanggulangi dengan penyediaan pendidikan sampai program D3 2 tahun (Associate Degree) dan beasiswa berdasarkan kebutuhan. Penelitian
terbaru menunjukkan bahwa tidak hanya tingkat sosial dari masyarakat kembali ke
program gelar dua tahun tinggi, tetapi juga bahwa lulusan dari program ini
cenderung untuk menetap dekat tempat mereka bersekolah, dan memberikan
kontribusi yang lebih besar dan tidak proporsional terhadap pembangunan daerah.
·
Tingkat Kejahatan yang Lebih Rendah. Regresi lintas negara menunjukkan bahwa
pendidikan lebih dikaitkan dengan tingkat kejahatan yang lebih rendah setelah
mengendalikan hal-hal lain. Mungkin ini sebagai efek dari orang-orang muda
tetap berada di sekolah dan bukan menjadi pengangguran dan berada di jalanan.
Efek dari penyaluran pemuda ke dalam pekerjaan yang produktif juga berlaku
untuk program gelar D3. Sebuah efek samping yang penting adalah bahwa biaya
pajak untuk penjara dan untuk sistem peradilan pidana lebih rendah.
·
Kelangsungan Lingkungan Hidup. Menjaga lingkungan yang bersih membutuhkan
professional-profesional yang terampil. Ini termasuk rimbawan, insinyur
lingkungan dan insinyur, surya, angin, air, dan ilmuwan bio-energi, dan
sebagainya. Selain ini, regresi menunjukkan bahwa pendidikan membantu
mengurangi kemiskinan dan pertumbuhan penduduk, perusakan hutan demi bahan
bakar dan habitat satwa liar berkurang, polusi air turun, dan ekspor manusia
dengan keterampilan yang intensif menggantikan ekspor bahan baku.
Manfaat dari pendidikan tinggi pada pembangunan
yang lebih luas dapat diharapkan menjadi bagian dari dampak dari peningkatan
pendidikan tinggi publik di Indonesia. Lulusan umumnya menghabiskan dua kali
lebih banyak waktu terjaga di rumah atau di masyarakat atau di kantor
menggunakan modal manusia nya, dan biasanya selama 43 tahun ditambah pensiun.
Tidak mengherankan bahwa nilai kontribusi tersebut sering diabaikan telah
diperkirakan jauh lebih besar daripada kontribusi pendidikan terhadap
pendapatan atau pertumbuhan ekonomi saja.
Ini berarti bahwa manfaat dari meningkatkan
investasi dalam pendidikan tinggi dan menengah secara seimbang sebagai sarana
memajukan Indonesia mungkin jauh lebih besar daripada yang umumnya
direalisasikan. Jika sekadar melihat pada manfaat pekerjaan, seberapapun
pentingnya, hanya meremehkan efek sebenarnya. Sekali lagi, dari usaha rata-rata,
hasil rata-rata juga yang dapat diharapkan. Keterbatasan yang sangat besar
untuk perkembangan yang cepat di Indonesia adalah pengembangan sumber daya
manusia.
0 komentar:
Posting Komentar