CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Kamis, 21 Februari 2013

Dampak Pendidikan Terhadap Perkembangan Indonesia

Saya sering diminta untuk menguraikan dampak dari pendidikan terhadap pembangunan ekonomi sebuah negara. Sebagai tanggapan, saya menawarkan intisari dari makalah yang ditulis oleh Walter W. McMahon, ia adalah Profesor Ekonomi dan Profesor Emeritus Pendidikan di University of Illinois di Urbana-Champaign. Profesor Walter kerap memberikan konsultasi formal dan informal dengan Foundation kami. Karya-karyanya dianggap penting oleh kami, karena sejalan dengan tujuan kami untuk selalu mengkaji kembali, dalam skala internasional, program pengembangan yang memastikan masyarakat prasejahtera mampu menentukan perekonomian mereka. Hal ini penting bagi negara berkembang untuk berpartisipasi secara global. Memperluas akses pendidikan akan berdampak terjadinya pergerakan lapisan sosial, terutama bagi masyarakat ekonomi prasejahtera bergerak ke atas. Hal ini akan memberikan dampak pada kesetabilan ekonomi, kesehatan, dan kesejahteraan negara secara keseluruhan.
————-  OOO  ————-
Di Indonesia, investasi pendidikan tinggi publik diperlukan untuk meningkatkan kualitas dan akses serta ekuitas. Terdapat 450.000 pelamar  pendidikan tinggi tetapi hanya ada 75.000 tempat. Di samping itu, tiga universitas publik terbaik di Indonesia hanya mampu mencapai peringkat 201 sampai dengan 451 di dunia pada tahun 2010. Hal ini disebabkan  karena tingkat  publikasi artikel-artikel jurnal yang rendah. Sebanyak 78 pendidikan tinggi lainnya dan 2.154 lembaga pendidikan tinggi swasta berperingkat lebih rendah lagi
Meningkatkan kualitas perguruan tinggi akan menciptakan orang-orang terampil yang mampu bertukar  pikiran, mengadapatasi ide-ide asing, menciptakan ide-ide baru, meningkatkan produktifitas ekonomi, dan  memberikan kontribusi terhadap pembangunan yang lebih luas karena ide-ide ini berkontribusi untuk kesehatan, lingkungan, pemerintahan yang lebih baik, dan meningkatkan kesejahteraan manusia.
Investasi untuk perguruan tinggi juga menghasilkan kontribusi untuk pembangunan dengan banyak cara. Bukti ini berasal dari penelitian di banyak negara didasarkan pada sampel besar individu serta dari data nasional. Banyak yang didokumentasikan dalam karya McMahon berjudul, Higher Learning, Greater Good(2009) dan Education and Development (2002).
1. Manfaat pribadi non-pasar. Pendidikan tinggi adalah meningkatkan dampak pembangunan bagi banyak individu. Manfaat-manfaat ini dapat dilihat pada:
·         Kesehatan yang Lebih Baik. Indonesia memiliki kecenderungan perkembangan yang juga ditemukan di negara-negara lain. Lulusan perguruan tinggi di Indonesia dapat menikmati kesehatan 8,4% lebih baik daripada lulusan  sekolah menengah secara umum. Hal tersebut berlaku sama untuk kesehatan bagi lulusan sekolah menengah dibanding lulusan sekolah dasar. Angka tersebut diambil dari 13 penelitian yang mewawancarai banyak individu di beberapa negara. Semakin banyak masyarakat yang menyelesaikan pendidikannya dalam sebuah populasi, maka status kesehatan dalam populasi tersebut akan melebihi apa yang bisa didapatkan dari peningkatan pendapatan perkapita.
·         Kesehatan anak dan pasangan yang lebih baik. Studi lain juga menunjukkan bahwa mereka yang memperoleh pendidikan tinggi mampu meningkatkan kesehatan tidak hanya anak-anaknya (8,7%), tetapi juga kesehatan pasangan­nya (8,1%).
·         Umur yang lebih panjang. Mereka dengan gelar sarjana rata-rata hidup sekitar 4,5 tahun lebih lama dibandingkan dengan mereka yang berpendidikan kurang dari itu. Hal ini disebabkan mampunya mereka mengendalikan pendapatan perkapita yang berkaitan dengan faktor-faktor lainnya. Sekali lagi, ini bukan hanya terjadi pada mereka yang mampu lulus dari pendidikan tinggi saja, tapi lulusan non-sarjana (pendidikan sekunder) juga mampu hidup sekitar 4,5 tahun lebih lama dibanding mereka yang hanya menyelesaikan pendidikan dasar. Sebanyak 66% dari semua laki-laki di Indonesia saat ini dapat hidup sampai usia 65, jadi, ini adalah dampak positif yang penting tidak hanya untuk masa bekerja bagi kelas pekerja, tetapi juga untuk masa pensiun mereka.
·         Pendidikan Anak dan Pengembangan Kognitif. Rata-rata dari 9 studi menunjukkan bahwa anak-anak lulusan perguruan tinggi mendapat nilai tes + 0,796 lebih tinggi pada membaca, matematika, dan tes ilmu pengetahuan dibandingkan mereka yang berpendidikan di bawahnya. Hal ini muncul dengan hal baik lainnya, seperti pendapatan per kapita yang terkendali dan faktor lainnya. Beberapa studi lain juga menunjukkan bahwa anak-anak ini akan bersekolah lebih lama.
·         Semakin sedikit anak, semakin lambat laju pertumbuhan penduduknya. Pendidikan untuk perempuan telah membantu memperlambat pertumbuhan penduduk Indonesia dan membuat kinerja klinik pengendalian kelahiran lebih efektif. Para perempuan yang menyelesaikan pendidikan sekunder akan memiliki rata-rata 0,81 anak lebih sedikit dari mereka yang meninggalkan sekolah setelah dasar, dan penelitian menunjukkan bahwa efek ini terus berlanjut sampai ke perguruan tinggi. Misalnya, tingkat kesuburan di Indonesia adalah 3,1 kelahiran per-wanita, sementara Pakistan adalah 5,8 (Bank Dunia). Untuk keluarga ini berarti lebih sedikit anak tetapi mampu menyediakan pendidikan dan kesehatan yang lebih baik untuk anak-anaknya. Bagi bangsa, pertumbuhan penduduk yang lebih lambat berarti lebih banyak pendapatan pendapatan perkapita. Hal ini dapat dilihat di Negara-negara seperti Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong, dan Singapura.
·         Manajemen rumah tangga yang lebih Efisien. Anggaran dana untuk keperluan rumah tangga lebih efisien, dan hasil yang dapat disimpan dari penghasilan secara persentasi lebih besar. Hal ini dapat terjadi pada setiap tingkatan pendapatan per kapita dengan meningkatnya jika terdapat kesadaran untuk pendidikan. Selanjutnya, dengan meningkatnya pendapatan keluarga, keluarga otomatis berinvestasi untuk keperluan anak-anak agar dapat belajar di rumah, yang merupakan sumber tabungan tambahan yang penting untuk pembangunan sebuah bangsa. Ini adalah bentuk tabungan dan investasi swasta—atau dengan kata lain ‘keluarga’—yang tidak mungkin akan terjadi tanpa dukungan pemerintah.
·         Kebahagiaan. Penelitian tentang sumber kebahagiaan oleh psikolog dengan pengukuran pada gelombang otak mengungkapkan bahwa dengan peningkatan pendidikan dan pendapatan seseorang berbanding lurus dengan peningkatan kebahagiaan. Hal ini dapat terjadi sampai pendapatan per kapita mencapai sekitar 170 juta rupiah per tahun dan kemudian berhenti. Data survei untuk Indonesia menunjukkan bahwa kebahagiaan relatif lebih tinggi, jauh di atas kebanyakan negara berkembang. Tapi dengan meningkatnya akses ke pendidikan, ukuran kebahagiaan cenderung akan meningkat lebih tinggi pula.
2. Manfaat sosial dari pendidikan tinggi adalah manfaat untuk orang lain dan generasi mendatang. Mereka termasuk:
·         Demokratisasi dan Meningkatkan Lembaga-Lembaga Sipil. Dari banyak survei, orang yang kuliah melakukan pemilihan suara lebih teratur, menjadi pemilih yang memiliki informasi lebih baik, dan mengkontribusikan waktu dan uang mereka lebih banyak ke organisasi-organisasi amal dan kemasyarakatan dibandingkan dengan mereka yang berpendidikan kurang pada tingkat pendapatan yang sama. Data nasional menunjukkan bahwa demokrasi muncul saat pendapatan per kapita naik dan mayoritas dari generasi berikutnya memiliki pendidikan lebih tinggi. Pendidikan yang lebih tinggi berkontribusi juga, karena demokrasi yang berkelanjutan membutuhkan banyak organisasi sipil dan amal yang efektif. Hal ini hanya dapat didukung oleh warga negara yang berpendidikan.
·         Hak Asasi Manusia terutama hak-hak sipil yang dilindungi oleh sistem pengadilan yang berjalan, Habeas Corpus, kebebasan pers, pengadilan oleh juri, dan kebebasan berserikat seperti yang didefinisikan oleh para ilmuwan politik. Hak-hak ini tergantung pada demokrasi, dukungan untuk kebebasan pers, dan seberapa banyak warga negara yang berpendidikan melibatkan diri pada hukum dan dengan lembaga-lembaga sipil.
·         Stabilitas Politik. Data internasional menunjukkan dengan jelas bahwa stabilitas politik meningkat dengan adanya demokratisasi. Tetapi di samping itu, lembaga pendidikan pasca-SMA atau lembaga pendidikan sekunder juga dapat memberikan pengaruh signifikan, setelah mengendalikan pengeluaran militer dan pendapatan per kapita. Stabilitas ini pada gilirannya didapat dari rumus pertumbuhan terhadap kontribusi pertumbuhan per kapita.
·         Pengurangan Kemiskinan. Pendidikan yang lebih tinggi dapat menyebabkan peningkatan ketidaksetaraan kecuali jika perhitungan indeks didasarkan pada nilai keseluruhan pendidikan, bukan hanya nilai hasil akhir saja. Kemisikinan pun dapat ditanggulangi dengan penyediaan pendidikan sampai program D3 2 tahun (Associate Degree) dan beasiswa berdasarkan kebutuhan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa tidak hanya tingkat sosial dari masyarakat kembali ke program gelar dua tahun tinggi, tetapi juga bahwa lulusan dari program ini cenderung untuk menetap dekat tempat mereka bersekolah, dan memberikan kontribusi yang lebih besar dan tidak proporsional terhadap pembangunan daerah.
·         Tingkat Kejahatan yang Lebih Rendah. Regresi lintas negara menunjukkan bahwa pendidikan lebih dikaitkan dengan tingkat kejahatan yang lebih rendah setelah mengendalikan hal-hal lain. Mungkin ini sebagai efek dari orang-orang muda tetap berada di sekolah dan bukan menjadi pengangguran dan berada di jalanan. Efek dari penyaluran pemuda ke dalam pekerjaan yang produktif juga berlaku untuk program gelar D3. Sebuah efek samping yang penting adalah bahwa biaya pajak untuk penjara dan untuk sistem peradilan pidana lebih rendah.
·         Kelangsungan Lingkungan Hidup. Menjaga lingkungan yang bersih membutuhkan professional-profesional yang terampil. Ini termasuk rimbawan, insinyur lingkungan dan insinyur, surya, angin, air, dan ilmuwan bio-energi, dan sebagainya. Selain ini, regresi menunjukkan bahwa pendidikan membantu mengurangi kemiskinan dan pertumbuhan penduduk, perusakan hutan demi bahan bakar dan habitat satwa liar berkurang, polusi air turun, dan ekspor manusia dengan keterampilan yang intensif menggantikan ekspor bahan baku.
Manfaat dari pendidikan tinggi pada pembangunan yang lebih luas dapat diharapkan menjadi bagian dari dampak dari peningkatan pendidikan tinggi publik di Indonesia. Lulusan umumnya menghabiskan dua kali lebih banyak waktu terjaga di rumah atau di masyarakat atau di kantor menggunakan modal manusia nya, dan biasanya selama 43 tahun ditambah pensiun. Tidak mengherankan bahwa nilai kontribusi tersebut sering diabaikan telah diperkirakan jauh lebih besar daripada kontribusi pendidikan terhadap pendapatan atau pertumbuhan ekonomi saja.
Ini berarti bahwa manfaat dari meningkatkan investasi dalam pendidikan tinggi dan menengah secara seimbang sebagai sarana memajukan Indonesia mungkin jauh lebih besar daripada yang umumnya direalisasikan. Jika sekadar melihat pada manfaat pekerjaan, seberapapun pentingnya, hanya meremehkan efek sebenarnya. Sekali lagi, dari usaha rata-rata, hasil rata-rata juga yang dapat diharapkan. Keterbatasan yang sangat besar untuk perkembangan yang cepat di Indonesia adalah pengembangan sumber daya manusia.

Oleh  : Aditya Gusti Daniswara(1) IX-L

0 komentar:

Posting Komentar