CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Kamis, 21 Februari 2013

Dampak Pendidikan Terhadap Perkembangan Indonesia

Saya sering diminta untuk menguraikan dampak dari pendidikan terhadap pembangunan ekonomi sebuah negara. Sebagai tanggapan, saya menawarkan intisari dari makalah yang ditulis oleh Walter W. McMahon, ia adalah Profesor Ekonomi dan Profesor Emeritus Pendidikan di University of Illinois di Urbana-Champaign. Profesor Walter kerap memberikan konsultasi formal dan informal dengan Foundation kami. Karya-karyanya dianggap penting oleh kami, karena sejalan dengan tujuan kami untuk selalu mengkaji kembali, dalam skala internasional, program pengembangan yang memastikan masyarakat prasejahtera mampu menentukan perekonomian mereka. Hal ini penting bagi negara berkembang untuk berpartisipasi secara global. Memperluas akses pendidikan akan berdampak terjadinya pergerakan lapisan sosial, terutama bagi masyarakat ekonomi prasejahtera bergerak ke atas. Hal ini akan memberikan dampak pada kesetabilan ekonomi, kesehatan, dan kesejahteraan negara secara keseluruhan.
————-  OOO  ————-
Di Indonesia, investasi pendidikan tinggi publik diperlukan untuk meningkatkan kualitas dan akses serta ekuitas. Terdapat 450.000 pelamar  pendidikan tinggi tetapi hanya ada 75.000 tempat. Di samping itu, tiga universitas publik terbaik di Indonesia hanya mampu mencapai peringkat 201 sampai dengan 451 di dunia pada tahun 2010. Hal ini disebabkan  karena tingkat  publikasi artikel-artikel jurnal yang rendah. Sebanyak 78 pendidikan tinggi lainnya dan 2.154 lembaga pendidikan tinggi swasta berperingkat lebih rendah lagi
Meningkatkan kualitas perguruan tinggi akan menciptakan orang-orang terampil yang mampu bertukar  pikiran, mengadapatasi ide-ide asing, menciptakan ide-ide baru, meningkatkan produktifitas ekonomi, dan  memberikan kontribusi terhadap pembangunan yang lebih luas karena ide-ide ini berkontribusi untuk kesehatan, lingkungan, pemerintahan yang lebih baik, dan meningkatkan kesejahteraan manusia.
Investasi untuk perguruan tinggi juga menghasilkan kontribusi untuk pembangunan dengan banyak cara. Bukti ini berasal dari penelitian di banyak negara didasarkan pada sampel besar individu serta dari data nasional. Banyak yang didokumentasikan dalam karya McMahon berjudul, Higher Learning, Greater Good(2009) dan Education and Development (2002).
1. Manfaat pribadi non-pasar. Pendidikan tinggi adalah meningkatkan dampak pembangunan bagi banyak individu. Manfaat-manfaat ini dapat dilihat pada:
·         Kesehatan yang Lebih Baik. Indonesia memiliki kecenderungan perkembangan yang juga ditemukan di negara-negara lain. Lulusan perguruan tinggi di Indonesia dapat menikmati kesehatan 8,4% lebih baik daripada lulusan  sekolah menengah secara umum. Hal tersebut berlaku sama untuk kesehatan bagi lulusan sekolah menengah dibanding lulusan sekolah dasar. Angka tersebut diambil dari 13 penelitian yang mewawancarai banyak individu di beberapa negara. Semakin banyak masyarakat yang menyelesaikan pendidikannya dalam sebuah populasi, maka status kesehatan dalam populasi tersebut akan melebihi apa yang bisa didapatkan dari peningkatan pendapatan perkapita.
·         Kesehatan anak dan pasangan yang lebih baik. Studi lain juga menunjukkan bahwa mereka yang memperoleh pendidikan tinggi mampu meningkatkan kesehatan tidak hanya anak-anaknya (8,7%), tetapi juga kesehatan pasangan­nya (8,1%).
·         Umur yang lebih panjang. Mereka dengan gelar sarjana rata-rata hidup sekitar 4,5 tahun lebih lama dibandingkan dengan mereka yang berpendidikan kurang dari itu. Hal ini disebabkan mampunya mereka mengendalikan pendapatan perkapita yang berkaitan dengan faktor-faktor lainnya. Sekali lagi, ini bukan hanya terjadi pada mereka yang mampu lulus dari pendidikan tinggi saja, tapi lulusan non-sarjana (pendidikan sekunder) juga mampu hidup sekitar 4,5 tahun lebih lama dibanding mereka yang hanya menyelesaikan pendidikan dasar. Sebanyak 66% dari semua laki-laki di Indonesia saat ini dapat hidup sampai usia 65, jadi, ini adalah dampak positif yang penting tidak hanya untuk masa bekerja bagi kelas pekerja, tetapi juga untuk masa pensiun mereka.
·         Pendidikan Anak dan Pengembangan Kognitif. Rata-rata dari 9 studi menunjukkan bahwa anak-anak lulusan perguruan tinggi mendapat nilai tes + 0,796 lebih tinggi pada membaca, matematika, dan tes ilmu pengetahuan dibandingkan mereka yang berpendidikan di bawahnya. Hal ini muncul dengan hal baik lainnya, seperti pendapatan per kapita yang terkendali dan faktor lainnya. Beberapa studi lain juga menunjukkan bahwa anak-anak ini akan bersekolah lebih lama.
·         Semakin sedikit anak, semakin lambat laju pertumbuhan penduduknya. Pendidikan untuk perempuan telah membantu memperlambat pertumbuhan penduduk Indonesia dan membuat kinerja klinik pengendalian kelahiran lebih efektif. Para perempuan yang menyelesaikan pendidikan sekunder akan memiliki rata-rata 0,81 anak lebih sedikit dari mereka yang meninggalkan sekolah setelah dasar, dan penelitian menunjukkan bahwa efek ini terus berlanjut sampai ke perguruan tinggi. Misalnya, tingkat kesuburan di Indonesia adalah 3,1 kelahiran per-wanita, sementara Pakistan adalah 5,8 (Bank Dunia). Untuk keluarga ini berarti lebih sedikit anak tetapi mampu menyediakan pendidikan dan kesehatan yang lebih baik untuk anak-anaknya. Bagi bangsa, pertumbuhan penduduk yang lebih lambat berarti lebih banyak pendapatan pendapatan perkapita. Hal ini dapat dilihat di Negara-negara seperti Korea Selatan, Taiwan, Hong Kong, dan Singapura.
·         Manajemen rumah tangga yang lebih Efisien. Anggaran dana untuk keperluan rumah tangga lebih efisien, dan hasil yang dapat disimpan dari penghasilan secara persentasi lebih besar. Hal ini dapat terjadi pada setiap tingkatan pendapatan per kapita dengan meningkatnya jika terdapat kesadaran untuk pendidikan. Selanjutnya, dengan meningkatnya pendapatan keluarga, keluarga otomatis berinvestasi untuk keperluan anak-anak agar dapat belajar di rumah, yang merupakan sumber tabungan tambahan yang penting untuk pembangunan sebuah bangsa. Ini adalah bentuk tabungan dan investasi swasta—atau dengan kata lain ‘keluarga’—yang tidak mungkin akan terjadi tanpa dukungan pemerintah.
·         Kebahagiaan. Penelitian tentang sumber kebahagiaan oleh psikolog dengan pengukuran pada gelombang otak mengungkapkan bahwa dengan peningkatan pendidikan dan pendapatan seseorang berbanding lurus dengan peningkatan kebahagiaan. Hal ini dapat terjadi sampai pendapatan per kapita mencapai sekitar 170 juta rupiah per tahun dan kemudian berhenti. Data survei untuk Indonesia menunjukkan bahwa kebahagiaan relatif lebih tinggi, jauh di atas kebanyakan negara berkembang. Tapi dengan meningkatnya akses ke pendidikan, ukuran kebahagiaan cenderung akan meningkat lebih tinggi pula.
2. Manfaat sosial dari pendidikan tinggi adalah manfaat untuk orang lain dan generasi mendatang. Mereka termasuk:
·         Demokratisasi dan Meningkatkan Lembaga-Lembaga Sipil. Dari banyak survei, orang yang kuliah melakukan pemilihan suara lebih teratur, menjadi pemilih yang memiliki informasi lebih baik, dan mengkontribusikan waktu dan uang mereka lebih banyak ke organisasi-organisasi amal dan kemasyarakatan dibandingkan dengan mereka yang berpendidikan kurang pada tingkat pendapatan yang sama. Data nasional menunjukkan bahwa demokrasi muncul saat pendapatan per kapita naik dan mayoritas dari generasi berikutnya memiliki pendidikan lebih tinggi. Pendidikan yang lebih tinggi berkontribusi juga, karena demokrasi yang berkelanjutan membutuhkan banyak organisasi sipil dan amal yang efektif. Hal ini hanya dapat didukung oleh warga negara yang berpendidikan.
·         Hak Asasi Manusia terutama hak-hak sipil yang dilindungi oleh sistem pengadilan yang berjalan, Habeas Corpus, kebebasan pers, pengadilan oleh juri, dan kebebasan berserikat seperti yang didefinisikan oleh para ilmuwan politik. Hak-hak ini tergantung pada demokrasi, dukungan untuk kebebasan pers, dan seberapa banyak warga negara yang berpendidikan melibatkan diri pada hukum dan dengan lembaga-lembaga sipil.
·         Stabilitas Politik. Data internasional menunjukkan dengan jelas bahwa stabilitas politik meningkat dengan adanya demokratisasi. Tetapi di samping itu, lembaga pendidikan pasca-SMA atau lembaga pendidikan sekunder juga dapat memberikan pengaruh signifikan, setelah mengendalikan pengeluaran militer dan pendapatan per kapita. Stabilitas ini pada gilirannya didapat dari rumus pertumbuhan terhadap kontribusi pertumbuhan per kapita.
·         Pengurangan Kemiskinan. Pendidikan yang lebih tinggi dapat menyebabkan peningkatan ketidaksetaraan kecuali jika perhitungan indeks didasarkan pada nilai keseluruhan pendidikan, bukan hanya nilai hasil akhir saja. Kemisikinan pun dapat ditanggulangi dengan penyediaan pendidikan sampai program D3 2 tahun (Associate Degree) dan beasiswa berdasarkan kebutuhan. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa tidak hanya tingkat sosial dari masyarakat kembali ke program gelar dua tahun tinggi, tetapi juga bahwa lulusan dari program ini cenderung untuk menetap dekat tempat mereka bersekolah, dan memberikan kontribusi yang lebih besar dan tidak proporsional terhadap pembangunan daerah.
·         Tingkat Kejahatan yang Lebih Rendah. Regresi lintas negara menunjukkan bahwa pendidikan lebih dikaitkan dengan tingkat kejahatan yang lebih rendah setelah mengendalikan hal-hal lain. Mungkin ini sebagai efek dari orang-orang muda tetap berada di sekolah dan bukan menjadi pengangguran dan berada di jalanan. Efek dari penyaluran pemuda ke dalam pekerjaan yang produktif juga berlaku untuk program gelar D3. Sebuah efek samping yang penting adalah bahwa biaya pajak untuk penjara dan untuk sistem peradilan pidana lebih rendah.
·         Kelangsungan Lingkungan Hidup. Menjaga lingkungan yang bersih membutuhkan professional-profesional yang terampil. Ini termasuk rimbawan, insinyur lingkungan dan insinyur, surya, angin, air, dan ilmuwan bio-energi, dan sebagainya. Selain ini, regresi menunjukkan bahwa pendidikan membantu mengurangi kemiskinan dan pertumbuhan penduduk, perusakan hutan demi bahan bakar dan habitat satwa liar berkurang, polusi air turun, dan ekspor manusia dengan keterampilan yang intensif menggantikan ekspor bahan baku.
Manfaat dari pendidikan tinggi pada pembangunan yang lebih luas dapat diharapkan menjadi bagian dari dampak dari peningkatan pendidikan tinggi publik di Indonesia. Lulusan umumnya menghabiskan dua kali lebih banyak waktu terjaga di rumah atau di masyarakat atau di kantor menggunakan modal manusia nya, dan biasanya selama 43 tahun ditambah pensiun. Tidak mengherankan bahwa nilai kontribusi tersebut sering diabaikan telah diperkirakan jauh lebih besar daripada kontribusi pendidikan terhadap pendapatan atau pertumbuhan ekonomi saja.
Ini berarti bahwa manfaat dari meningkatkan investasi dalam pendidikan tinggi dan menengah secara seimbang sebagai sarana memajukan Indonesia mungkin jauh lebih besar daripada yang umumnya direalisasikan. Jika sekadar melihat pada manfaat pekerjaan, seberapapun pentingnya, hanya meremehkan efek sebenarnya. Sekali lagi, dari usaha rata-rata, hasil rata-rata juga yang dapat diharapkan. Keterbatasan yang sangat besar untuk perkembangan yang cepat di Indonesia adalah pengembangan sumber daya manusia.

Oleh  : Aditya Gusti Daniswara(1) IX-L

Pentingnya Pendidikan


Pendidikan adalah salah satu hal yang penting kita perhatikan, pentingnnya pendidikan sangat terlihat jelas. Melamar pekerjaan yang layak tentu membutuhkan ijazah sesuai dengan jabatan yang akan kita lamar. Jabatan yang tinggi tentunya membutuhkan orang yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi juga yang dibuktikan dengan ijazah. Tapi apakah ijazah yang notabene merupakan simbol tingkat pendidikan sesorang berbanding lurus dengan pengetahuan yang dimiliki. Hal ini patut kita perhatikan dan amati bersama, apalagi di era globalisasi yang penuh persaingan dan tidak sedikit orang yang menghalalkan segala cara untuk memenangkan kompetisi tersebut.

Pendidikan pada dasarnya memberikan kita pengetahuan bagaimana bersikap, bertutur kata dan mempelajari perkembangan sains yang pada akhirnya bisa dimanfaatkan untuk khalayak banyak. Tapia apa yang terjadi sekarang pendidikan menjadi ajang untuk mencari nafkah uang, uang dan uang. Berbagai cara orang lakukan untuk mendapatkan label Sarjana agar dapat diterima pada sebuah instansi. Dan tidak sedikit yang menempuh jalur yang tidak benar yang biasa kita kenal dengan sogok menyogok dan Nepotisme.

Pentingnya pendidikan pun hilang ditelan ganasnya kebuasaan manusia yang hanya merasa hidup ketika berduit. Padahal pendidikan tidak mengajarkan seperti itu, pendidikan itu penting tapi sangat jarang orang mengetahui secara spesifik pentingnya pendidikan.

Pendidikan dianggap penting karena dapat menjadi bekal untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Padahal tujuan pendidikan tidak seperti itu, pendidikan penting karena ingin memanusiakan manusia sesuai dengan teori pendidikan.

Pentingnya Pendidikan Bagi Semua Orang
Pendidikan merupakan hal yang terpenting dalam kehidupan kita,ini berarti bahwa setiap manusia berhak mendapat dan berharap untuk selalu berkembang dalam pendidikan. Pendidikan secara umum mempunyai arti suatu proses kehidupan dalam mengembangkan diri tiap individu untuk dapat hidup dan melangsungkan kehidupan. Sehingga menjadi seorang yang terdidik itu sangat penting. Pendidikan pertama kali yang kita dapatkan di lingkungan keluarga, lingkungan sekolah dan lingkungan masyarakat.

Seorang anak yang disayangi akan menyayangi keluarganya ,sehingga anak akan merasakan bahwa anak dibutuhkan dalam keluarga. Sebab merasa keluarga sebagai sumber kekuatan yang membangunya.Dengan demikian akan timbul suatu situasi yang saling membantu,saling menghargai,yang sangat mendukung perkembangan anak.Di dalam keluarga yang memberi kesempatan maksimum pertumbuhan,dan perkembangan adalah orang tua.Dalam lingkungan keluarga harga diri berkembang karena dihargai,diterima,dicintai,dan dihormati sebagai manusia .Itulah pentingnya mengapa kita menjadi orang yang terdidik di lingkungan keluarga.Orang tua mengajarkan kepada kita mulai sejak kecil untuk menghargai orang lain.


Sedangkan di lingkungan sekolah yang menjadi pendidikan yang kedua dan apabila orang tua mempunyai cukup uang maka dapat melanjutkannya ke jenjang yang lebih tinggi dan akan melanjutkan ke Perguruan Tinggi kemudian menjadi seorang yang terdidik . Alangkah Pentingnya Pendidikan itu. Guru sebagai media pendidik memberikan ilmunya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Peranan guru sebagai pendidik merupakan peran  memberi bantuan dan dorongan ,serta tugas-tugas yang berkaitan dengan mendisiplinkan anak  agar anak dapat mempunyai rasa tanggung jawab dengan apa yang dia lakukan. Guru juga harus berupaya agar pelajaran yang diberikan selalu cukup untuk menarik minat anak .



Selain itu peranan lingkungan masyarakat juga penting bagi anak  didik . Hal ini berarti memberikan gambaran tentang bagaimana kita hidup bermasyarakat.Dengan demikian bila kita berinteraksi dengan masyarakat maka mereka akan menilai kita,bahwa  tahu mana orang yang terdidik,dan  tidak terdidik. Di zaman Era Globalisasi diharapkan generasi muda bisa mengembangkan ilmu yang didapat sehingga tidak ketinggalan dalam perkembangan zaman. Itulah pentingnya menjadi seorang yang terdidik baik di lingkungan Keluarga,Sekolah,dan Masyarakat.

Oleh   : Eva Choirul Rosidah IX-L

Pendidikan





Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat.


Filosofi pendidikan

Pendidikan biasanya berawal saat seorang bayi itu dilahirkan dan berlangsung seumur hidup. Pendidikan bisa saja berawal dari sebelum bayi lahir seperti yang dilakukan oleh banyak orang dengan memainkan musik dan membaca kepada bayi dalam kandungan dengan harapan ia bisa mengajar bayi mereka sebelum kelahiran.Bagi sebagian orang, pengalaman kehidupan sehari-hari lebih berarti daripada pendidikan formal. Seperti kata Mark Twain, "Saya tidak pernah membiarkan sekolah mengganggu pendidikan saya."[rujukan?]Anggota keluarga mempunyai peran pengajaran yang amat mendalam, sering kali lebih mendalam dari yang disadari mereka, walaupun pengajaran anggota keluarga berjalan secara tidak resmi.

Fungsi pendidikan

Menurut Horton dan Hunt, lembaga pendidikan berkaitan dengan fungsi yang nyata (manifes) berikut:


  • Mempersiapkan anggota masyarakat untuk mencari nafkah.
  • Mengembangkan bakat perseorangan demi kepuasan pribadi dan bagi kepentingan masyarakat.
  • Melestarikan kebudayaan.
  • Menanamkan keterampilan yang perlu bagi partisipasi dalam demokrasi.
Fungsi laten lembaga pendidikan adalah sebagai berikut.
  • Mengurangi pengendalian orang tua. Melalui pendidikan, sekolah orang tua melimpahkan tugas dan wewenangnya dalam mendidik anak kepada sekolah.
  • Menyediakan sarana untuk pembangkangan. Sekolah memiliki potensi untuk menanamkan nilai pembangkangan di masyarakat. Hal ini tercermin dengan adanya perbedaan pandangan antara sekolah dan masyarakat tentang sesuatu hal, misalnya pendidikan seks dan sikap terbuka.Mempertahankan sistem kelas sosial. Pendidikan sekolah diharapkan dapat mensosialisasikan kepada para anak didiknya untuk menerima perbedaan prestise, privilese, dan status yang ada dalam masyarakat. Sekolah juga diharapkan menjadi saluran mobilitas siswa ke status sosial yang lebih tinggi atau paling tidak sesuai dengan status orang tuanya.
  • Memperpanjang masa remaja. Pendidikan sekolah dapat pula memperlambat masa dewasa seseorang karena siswa masih tergantung secara ekonomi pada orang tuanya.
Menurut David Popenoe, ada empat macam fungsi pendidikan yakni sebagai berikut:
  • Transmisi (pemindahan) kebudayaan.
  • Memilih dan mengajarkan peranan sosial.
  • Menjamin integrasi sosial.Sekolah mengajarkan corak kepribadian.
  • Sumber inovasi sosial. 
Oleh   : Frizky Sasetya Lesana IX-L 

Sabtu, 16 Februari 2013

Meningkatkan Kualitas Pendidikan di Indonesia

Upaya meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia telah lama dilakukan. Dalam setiap GBHN dan Repelita selalu tercantum bahwa peningkatan mutu pendidikan merupakan salah satu prioritas pembangunan di bidang pendidikan. Berbagai inovasi dan program pendidikan juga telah dilaksanakan, antara lain penyempurnaan kurikulum, pengadaan buku ajar, peningkatan mutu guru dan tenaga pendidikan lainnya, peningkatan manajemen pendidikan, serta pengadaan fasilitas lainnya. 
Namun, berbagai indikator menunjukkan bahwa mutu pendidikan masih belum meningkat secara signifikan. Dari dalam negeri diketahui bahwa NEM SD sampai sekolah menengah masih rendah dan tidak mengalami peningkatan yang berarti. Dari sisi perilaku keseharian siswa, juga banyak terjadi ketidakpuasan masyarakat. Tawuran antarsiswa kini sudah menjadi berita biasa. Jika dulu tawuran diikuti siswa SMU di kota-kota besar, kini tawuran sudah menjalar sampai ke SLTP di kabupaten. Dari dunia usaha juga mencul keluhan bahwa lulusan yang memasuki dunia kerja belum memiliki kesiapan kerja yang baik. Ketidakpuasan berjenjang juga terjadi. Kalangan SLTP merasa bekal lulusan SD kurang baik untuk memasuki SLTP. Kalangan SMU merasa lulusan SLTP tidak siap mengikuti pembelajaran di sekolah menengah. Dan, kalangan perguruan tinggi merasa bekal lulusan SMU belum cukup untuk mengikuti perkuliahan. Kini juga muncul gejala lulusan SLTP dan SMU banyak yang menjadi pengangguran di pedesaan mengingat sulitnya mendapatkan pekerjaan. Sementara itu, mereka merasa malu jika harus membantu orang tua sebagai petani atau pedagang. Terkait dengan itu, studi Blazely dkk (1997) melaporkan, pembelajaran di sekolah cenderung sangat teortik dan tidak terkait dengan lingkungan di mana anak berada. Akibatnya, peserta didik tidak mampu menerapkan apa yang dipelajari di sekolah guna memecahkan masalah kehidupan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari. Pendidikan seakan mencabut peserta didik dari lingkungan sehingga menjadi asing di masyarakatnya sendiri. Fakta semua itu menujukkan, upaya peningkatan pendidikan yang selama ini dilakukan belum mampu memecahkan masalah dasar pendidikan di Indonesia. Padahal, pendidikan yang bermutu merupakan syarat pokok untuk meningkatkan mutu SDM dalam memasuki era kesejagatan. Untuk itu, pendidikan perlu dikembalikan kepada prinsip dasarnya yaitu sebagai upaya memanusiakan manusia (humanisasi). Pendidikan juga harus dapat mengembangkan potensi dasar peserta didik agar berani menghadapi problema yang dihadapi tanpa rasa tertekan. Pendidikan juga diharapkan mampu mendorong peserta didik untuk memelihara diri sendiri, sambil meningkatkan hubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa,masyarakat dan lingkungannya. Untuk itu, pendidikan berorientasi kecakapan hidup (life skill) sangat dibutuhkan guna mempersiapkan peserta didik dengan bekal kecakapan hidup, baik kecakapan untuk mengurus dan mengendalikan diri sendiri, untuk berinteraksi di lingkungan sekolah dan masyarakat serta kecakapan untuk bekerja. Dalam upaya menjaring masukan konstruktif bagi pengembangan program tentang pendidikan berorientasi kecakapan hidup, Departemen Pendidikan, pekan lalu, di Jakarta, mengadakan temu konsultasi pendidikan berbasis luas - broad based education - BBE, berorientasi kecakapan hidup - life skill. Temu konsultasi ini dibuka oleh Sekjen Depdiknas, Baedowi, dengan menampilkan pembicara tim asistensi BBE Depdiknas, pakar pendidikan, dan tokoh masyarakat.Sekjen Depdiknas, Baedowi, dalam sambutannya mengemukakan, dunia pendidikan Indonesia dihadapkan pada tantangan yang cukup serius sebagai dampak dari era globalisasi dan krisis ekonomi yang berkepanjangan. persaingan kualitas sistem pendidikan dengan negara-negara lain secara internasional dan tingginya angka drop out serta akibat tingginya angka tidak melanjutkan kejenjang yang lebih tinggi menjadipersoalan tersendiri yang menghantui. Dalam rangka menghadapi tantangan itu, maka menurut Baedowi, ada dua hal yang diharapkan bisa menjawabnya. Pertama, demokrasi pendidikan dengasn memberikan peluang dan kesempatan seluas-luasnya kepada masyarakat untuk bereparan aktif dalam perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi melalui wahana dewan pendidikan dan komite sekolah, serta memberikan otonomi kepada kepala sekolah melalui penerapan manajemen pendidikan berbasis sekolah (MPBS). Kedua, reorientasi pendidikan dan pembelajaran melalui penerapan high based education (HBE) yaitu mempersiapkan siswa yang terseleksi secara kualitas akademik berbakat dan betul-betul siap memasuki perguruan tinggi. Serta penerapan broad based education (BBE) berorientasi kecakapan hidup (life skill) yang merupakan reorientasi pendidikan dari subject matter oriented ke life skill oriented. Menurut Baedowi, diadakannya temu konsultasi pendidikan ini adalah untuk menjaring masukan dari semua pihak terkait dalam rangka penyempuirnaan konsep pendidikan berbasis luas berorientasi kecakapan hidup. "Kepada semua yang merasa peduli dengan pendidikan diminta untuk mencermati secara serius, memberikan masukan-masukan yang komperhensif terhadap konsep life skill ini. Ini dimaksudkan agar pelaksanaannya di lapangan tidak menimbulkan hal-hal yang tidak diharapkan," kata Baedowi. Dengan dapat diterapkannya program life skill di semua jenjang pendidikan, menurut Baedowi, pendidikan Indonesia mampum menghasilkan tamatan yang memiliki kesiapan untuk dapat menghadapi persoalan hidup dan kehidupan. Dankemudian secara kreatif dan arif mampu menyelesaikan persoalan serta siap berperan di masyarakat. Baedowi juga berpesan, sebaik-baiknya konsep yang bisa diformulasikan, apabila tidak dibarengi dengan penyiapan guru yang memiliki kecakapan sebagai pelaksana langsung life skill pada anak didik, maka semua harapan itu tidak dapat menjadi kenyataan. "Dan, kita akan tetap ketinggalan dari negara lain," katanya. Dari uraian ini jelas bahwa sangat diperlukan polapendidikan yang dengan sengaja dirancang untuk membekali peserta didik dengan kecakapan hidup yang secara integratif memadukan kecakapan generikdan spsifik guna memacahkan dan mngatasi problema kehidupan. Pendidikan harus fungsional dan jelasmanfaatnya bagi peserta didik. Sehingga tidak sekadar merupakan penumpukan pengetahuan yang tidak bermakna. Pendidikan harus diarahkan untuk kehidupan anak didik dan tidak terhenti pada penguasaan materi pelajaran. Semoga! 

By : Detasya Avri Magfira(3) IX-L